Coto Makassar berasal dari Sulawesi Selatan, tepatnya Kota Makassar. Hidangan ini dibuat dari jeroan dan daging sapi yang dimasak dalam kuah kacang halus dengan campuran rempah khas. Proses memasaknya memakan waktu lama agar bumbu benar-benar meresap dan menghasilkan kuah kental beraroma harum.
Coto Makassar biasanya disajikan dengan ketupat atau buras, serta sambal tauco yang memberi rasa pedas gurih. Makanan ini dulunya hanya disajikan pada upacara adat dan perayaan penting, namun kini telah menjadi ikon kuliner Makassar yang dikenal luas.
![]() |
| Sumber: shutterstock |
Sejarah Coto Makassar berasal
dari era Kerajaan Gowa pada abad ke 16 silam. Coto adalah hidangan istimewa yang menjadi simbol kekayaan dan kemewahan karena konon hanya dihidangkan untuk para raja dan bangsawan saja. Penggunaan bagian-bagian dalam sapi (jeroan) pada awalnya merupakan cara untuk memaksimalkan setiap bagian hewan dan menunjukkan keterampilan dalam mengolahnya menjadi hidangan yang lezat.
Cara membuat Coto Makassar juga unik, karena kuahnya dibuat kental dan gurih yang berasal dari kaldu rebusan jeroan sapi dan dimasak dengan puluhan jenis rempah. Hidangan ini juga dikenal sebagai "Coto Mangkasara" dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap kunjungan ke Makassar. Filosofi yang melekat dari coto tak kalah menarik. Beberapa orang meyakini bahwa 40 jenis rempah yang digunakan adalah simbol persatuan dan keragaman budaya masyarakat Makassar. Setiap rempah juga memiliki peran uniknya sendiri, namun ketika disatukan, mereka menciptakan harmoni rasa yang sempurna. Ini seperti halnya masyarakat yang beragam namun bersatu. Karena itulah coto bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang diceritakan melalui setiap suapan.
Rahasia utama kelezatan Coto Makassar terletak pada penggunaan rempah-rempah yang melimpah dan kompleks. Diperkirakan, ada sekitar 40 jenis rempah yang digunakan, yaitu:
Semua rempah tadi diolah dan dimasak secara perlahan bersama rebusan daging sapi dan jeroan berupa usus, paru, jantung, hati, dan babat hingga bumbu meresap sempurna. Hasilnya adalah kuah kental berwarna kecokelatan yang aromatik. Proses memasak yang panjang ini adalah kunci untuk menghasilkan cita rasa yang dalam dan otentik.
Cara membuat Coto Makassar juga unik, karena kuahnya dibuat kental dan gurih yang berasal dari kaldu rebusan jeroan sapi dan dimasak dengan puluhan jenis rempah. Hidangan ini juga dikenal sebagai "Coto Mangkasara" dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap kunjungan ke Makassar. Filosofi yang melekat dari coto tak kalah menarik. Beberapa orang meyakini bahwa 40 jenis rempah yang digunakan adalah simbol persatuan dan keragaman budaya masyarakat Makassar. Setiap rempah juga memiliki peran uniknya sendiri, namun ketika disatukan, mereka menciptakan harmoni rasa yang sempurna. Ini seperti halnya masyarakat yang beragam namun bersatu. Karena itulah coto bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang diceritakan melalui setiap suapan.
Rahasia utama kelezatan Coto Makassar terletak pada penggunaan rempah-rempah yang melimpah dan kompleks. Diperkirakan, ada sekitar 40 jenis rempah yang digunakan, yaitu:
- Bumbu utama yang berisi bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, serai, daun salam.
- Rempah khas ketumbar, jintan, merica, pala, cengkeh, kayu manis, kemiri, kapulaga, dan yang paling khas adalah tauco (fermentasi kedelai) yang memberikan aroma dan rasa umami yang unik.
- Pengental Cotto Makassar biasanya menggunakan kacang tanah yang dihaluskan, dan juga beras yang disangrai lalu ditumbuk, memberikan tekstur kuah yang kental dan gurih.
Semua rempah tadi diolah dan dimasak secara perlahan bersama rebusan daging sapi dan jeroan berupa usus, paru, jantung, hati, dan babat hingga bumbu meresap sempurna. Hasilnya adalah kuah kental berwarna kecokelatan yang aromatik. Proses memasak yang panjang ini adalah kunci untuk menghasilkan cita rasa yang dalam dan otentik.
